Hal-hal Random di Kepala #1


Sebelum kau baca ini, akan kuperingatkan kalau tulisan ini hanya berisi sesuatu yang ribut di kepalaku pada malam 12 Juli 2025. Sebuah tulisan yang barangkali akan berpindah dari satu bagian ke bagian lain. Tidak nyambung.

Kepalaku ribut sekali, apa butuh ke psikolog? Setiap malam, selalu tidur lewat jam dua. Tambah kuruslah badanku, seperti orang yang terkena gizi buruk. Kalau kata bapak, aku seperti orang stunting yang tidak terdeteksi BKKBN. Huft. 

Sempat terlintas di kepalaku ingin bertanya ke teman-teman yang bekerja di kesehatan, rekomendasi vitamin apa untuk bisa menambah nafsu makan? Aku merasa kurang makan akhir-akhir ini. Sarapan terlewat, makan siang terlambat. Padahal sudah kukeluarkan satu kemewahan dari dalam kamarku, springbed, dengan alasan agar tidak mudah mager. Tetap saja.

Dinding kamarku, dekat rak warna pink polkadot yang sungguh sangat kontras terlihat, ada bekas tendangan berbentuk oval yang jika disentuh sudah pasti akan berjatuhan serpihan triplek (bingung akan kusebut apa bagian itu). Tendangan akibat emosi pada sesuatu yang sulit sekali kutahan. Apa butuh ke psikolog?

Tadi sore, Kak Samsir dan Kak Febi mampir. Sepasang suami istri itu terlihat romantis walau seringkali terlibat debat yang sengit. Lalu kenapa mereka masih saling? Kalau kata Jeki, mereka 'menerima'. Sesimple itu kah kehidupan rumah tangga? Lupakan. Perbincangan dengan sepasang itu membawa pemahaman baru, bahwa ternyata ada banyak jenis calo di dunia ini, dan semua orang butuh ordal. Sial sekali ya hidup di Indonesia yang untuk beli satu buku saja harus mikir. Makanya mikir, biar masih punya tabungan. Tapi, apa yang bisa ditabung? 

Sedang harga-harga melambung tinggi. Tomat sudah Rp. 30.000 / kilo, padahal bulan lalu masih Rp. 12.000 / kilo, bukan main. Nah, itu juga bisa jadi alasan mengapa orang-orang seusiaku masih banyak yang belum menikah. Gaji rendah, UMR rendah, dipaksa menghidupi anak orang.

Sam datang, ini hari pertamanya di Kalukku setelah pulang dari Gorontalo. Beban anak pertama, nyata adanya di wajah Sam. Kulit lengannya legam, itu jadi saksi kalau anak pertama harus jadi petarung. Kalau kau baca ini, tolong jangan bebankan anak-anakmu untuk menghidupimu kelak, karena kau juga merasakan betapa lukanya menanggung itu. 

Akmal, juga datang. Sudah beberapa hari sejak kepulangannya dari Jogja. Rambutnya gondrong, lebih panjang dari kali pertama aku bertemu dengannya saat dia masih kelas dua SMP. Sudah 19 tahun usianya, dan gayanya yang vintage itu cocok sekali. Kami bercerita banyak hal. Pola pikir mahasiswa Jogja memang beda ya. Manusia, sama. Setara. Tidak ada dominan dalam hal apapun, harusnya. Tapi, tidak seperti itu dunia bekerja. 

Kita butuh makan, teman, dan barangkali cinta?


12/07/2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[TENTANG BUKU] Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar! - Kalis Mardiasih

[TENTANG BUKU] Namaku Alam - Leila S. Chudori

[TENTANG BUKU] As Long As The Lemon Trees Grow - Zoulfa Katouh