[TENTANG BUKU] Bungkam Suara - J.S. Khairen



Pernah dengar atau baca tentang kota Saranjana? Ituloh kota yang bagi masyarakat Kalimantan adalah kota yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Nah, di novel bersampul merah hitam dengan jumlah halaman 368 ini, JS. Khairen sebagai penulis memperkenalkan sebuah negara yang tidak ada di peta dunia. Distopia. Namanya Negara Kesatuan Adat Lemunesia (NKAL). Negara yang dipimpin oleh dua otoritas tertinggi yaitu seorang raja dan seorang pemangku adat. Tapi di dalamnya ada lagi raja-raja kecil. Tidak ada provinsi, yang ada hanya distrik. Mata uangnya DW (Duwit) dan semua transaksi dilakukan secara digital, pengemis sekalipun. Ada satu kebijakan di negara ini yang mampu mengubah hidup seseorang dalam hitungan detik, yaitu Hari Bebas Bicara. Di hari tersebut semua bebas mengungkapkan pendapatnya di sosial media. Orang-orang saling hina, saling memaki, saling mencurigai dan penyebaran hoax marak terjadi di hari itu. Kelebihannya adalah pada hari itu banyak 'pengkhianat negara' tertangkap. 

Sedikit Cerita 

Jujur Timur atau Timmy awalnya bekerja sebagai seorang asisten dosen dari Prof. Terang Setiawan. Kehidupannya langsung berubah drastis ketika ayahnya ditangkap dan tertuduh sebagai orang yang mencuri uang negara di Hari Bebas Bicara. Timmy, adik beserta ibunya harus menerima cemo'ohan dari orang-orang di sekitarnya. Timmy diberhentikan dari universitas. Mereka kemudian menyambung kehidupan sebagai petani durian di Distrik Cokku. Beberapa kali, Kayes kekasih Timmy mengajaknya untuk lari saja menuju Dunia Luar, dunia yang bagi orang-orang NKAL hanyalah mitos. Kayes bersusah payah mencari cara untuk bisa keluar bersama Timmy. 

Tapi, satu hari sebelum Hari Bebas Bicara tepat setahun penangkapan ayahnya, Timmy menemukan sebuah bukti agar ayah dan keluarganya bisa bebas dari tuduhan tersebut. Dalam hitungan jam kehidupan Timmy berubah lagi. Ia direkrut kembali oleh Prof. Terang tapi bukan sebagai asistennya. Pekerjaan yang membuatnya harus bersinggungan langsung dengan raja utama dan pemangku adat. Dari pekerjaan ini, Timmy menemukan banyak fakta baru, salah satunya adalah orang-orang yang terlibat dibalik narasi-narasi yang tersebar di sosial media pada hari bebas bicara. 

Kelebihan

Dikemas dalam sebuah cerita fiksi namun novel ini merupakan novel satir yang banyak menyinggung tentang politik, ekonomi dan berbagai propaganda media. Ide yang dimunculkan dalam novel ini bagiku sangat menarik dan relate dalam kehidupan. Betapa cerewetnya orang-orang di sosial media yang berujung mereka saling hina, saling caci dan saling mengejek. 

Novel ini sangat imajinatif menurutku, tentang NKAL dan bagaimana teknologi sangat berkembang di negara fiksi ini. Dan yang menarik juga tentang dunia luar yang dianggap mitos karena pemerintahnya menyembunyikan keberadaan Dunia Luar. Indonesia, Malaysia, Amerika dan seluruh negara di luar dari NKAL bagi masyarakatnya adalah mitos. Selain itu, banyak sekali kutipan menarik yang menjadi pembuka setiap episode di dalam novel ini. Oh iya, novel ini juga punya 17 soundtrack lagu yang bisa discan di halaman terakhir buku ini.

Kekurangan

Alur ceritanya terasa begitu cepat dan kadang aku merasa beberapa bagian ceritanya yang bikin aku bergumam seperti "kok tiba-tiba begini, padahal tadi perasaan masih di sini". Ada beberapa juga yang memperlihatkan tindakan dari beberapa karakter yang menurutku tidak perlu ada atau tidak memberi pengaruh apa-apa dalam cerita ini. Terkesan acak sekali. Akhir ceritanya juga menimbulkan banyak sekali pertanyaan. Tapi karena akan ada lagi lanjutan dari novel ini yang berjudul Bungkam Rakyat, yang kurang mungkin akan ada di novel selanjutnya. 

Kutipan favoritku

"Tak ada lagi waktu untuk tidak berani. Tak ada lagi waktu untuk tidak ambil jalan." hlm. 46

 "Benci boleh, bodoh jangan!" hlm. 70

"Tak semua orang melihat kebenaran dengan cara kita. Tak semua telinga mendengar nyanyian yang sama" hlm. 114

"Berikanlah kebebasan berbicara sebebas-bebasnya. Maka akan ketahuan siapa yang pintar dan siapa yang tidak" hlm.126

"Tak semua ucapan orang itu untukmu. Kau bukan pusat dunia, kawan. Lagi-lagi, belajarlah mengontrol ketersinggungan" hlm.161

"Ajarkan anak-anak, adik-adik kita, keponakan, sepupu kita, untuk paham bahwa viral itu bukan mata uang kesuksesan" hlm. 263

"Penjara paling sempurna bagi pembenci adalah berbuat baik padanya" hlm. 313 


Salam literasi! 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[TENTANG BUKU] Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar! - Kalis Mardiasih

[TENTANG BUKU] Namaku Alam - Leila S. Chudori

[TENTANG BUKU] As Long As The Lemon Trees Grow - Zoulfa Katouh